BENAR DAN SALAH TIDAK PENTING
ALLAH SWT tidak menilai atau memberi pahala berdasarkan sejauh mana kepastian akan kebenaran sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia. Sebagai contoh bahwa, jikalau pun suatu masalah yang sedang kita diskusikan dalam forum seperti ini nantinya akan menghasilkan sebuah kesimpulan yang sebenar benarnya misalnya, maka hal itu tidaklah menjadi jaminan bahwa apa yang kita yakini dan jalani kemudian akan dinilai benar pula oleh Allah. Apalagi sampai bisa menjamin bahwa amal perbuatan kita diterima dan kita mendapat pahala sorga kelak.
Manusia wajib meyakini kebenaran yang ada dalam Islam, akan tetapi tidak boleh mengakui kebenaran itu sebagai miliknya. Sebaliknya, setiap muslim justru harus mengakui kesalahan seluruh perbuatan yang dilakukannya bahkan mengakui kesesatan atas jalan yang dilaluinya di mata Allah. Bukti kesungguhan pengakuan tersesatnya seorang muslim selalu terus terbawa seperti halnya ketika mengerjakan sholat dengan panjatan do’a “ Ihdinasshiroothol mustaqiim “. Tidak cukup dengan hal itu, bahwa seseorang yang benar benar muslim akan selalu berdo’a dengan sikap perasaan berharap harap cemas atau yang disebut dalam AlQur’an dengan istilah “ roghoban wa roohinan “, Al Anbiyaa’-90, sekali lagi, karena mereka sadar bahwa kesesatan memang sedang ditimpakan kepada setiap manusia yang menjalani hidup dan Allah SWT hanya akan menolong serta memberi hidayah hanya kepada orang orang yang benar benar selalu berharap.
Yang membuat kita semua tidak habis pikir, apalagi kalau kita bicara kondisi riil, di jaman sekarang ini banyak sekali orang yang mengaku ahli “ Laa Ilaaha illAllah “ dan mengaku menjadi muslim yang taat, akan tetapi sepak terjang perbuatannya justru bertolak dengan apa yang harus mereka akui setiap harinya yaitu ketika mengerjakan sholat. Kebenaran selalu diakui dan diagung agungkan menjadi miliknya. Dengan pekikan yel yel “ Allaahu Akbar “ mereka dengan penuh percaya diri berani memasang wajah garang penuh amarah seolah olah kebenaran yang diakukannya telah mendapat rekomendasi dari Allah, kemudian entah sadar atau tidak mereka lupa dengan kesesatan yang harus mereka akui dan malah justru mengalamatkan kesesatan itu kepada orang lain. Sewajarnyalah jika kemudian ada orang bertanya “ selain mereka sendiri dan kelompoknya, adakah yang menjamin bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar benar telah diridhoi Allah “. Dan jika mereka menjawab dengan dalil dalil AlQuran atau Hadits misalnya, maka tidakkah AlQuran atau Hadist tersebut adalah ayat atau riwayat yang mereka pinjam dan mereka pahami hanya dengan pencernaan makna yang secara kebetulan saja sesuai dengan selera atau kesukaan mereka sendiri yang tidak luput pula dari kehilafan bahkan kesalahan.
Jika saja orang orang seperti ini adalah benar benar muslim, lalu dimanakah manifestasi Ihdinasshirothol Mustaqiim dan juga Roghoban wa Rohinan itu ada pada diri mereka.
Perlu diingat dan selalu diyakini bahwa qodrat manusia adalah “dho’if ”. Banyak sekali yang bersepakat bahwa hal yang dho’if tidak dapat dijadikan alat pengukur sebuah kebenaran. Saat memberi keterangan tentang kebenaran, Allah jelas jelas memasang benang merah dengan Mengatakan “ al haqqu min Robbika ………., al ayah.. “. Allah pun menghimbau agar jangan sekali kali kita manusia termasuk orang orang yang ragu dengan hal tersebut.
Korelasi antara dho’ifnya manusia dan kebenaran mutlaq yang hanya berasal dari Allah SWT seakan memberi isyrarat bahwa manusia memang ditaqdirkan tidak akan dapat menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga seperti yang sudah disinggung di atas, meski sepandai apapun manusia tetap harus meyakini dan tidak boleh ragu ragu bahwa di hadapan Allah manusia akan tetap selalu kurang, kalah serta salah dalam segala hal, bukannya malah sebaliknya yaitu merasa cukup dan merasa sudah benar apalagi sampai mengatas namakan Allah dan berani menyalahkan orang lain yang belum tentu salah di mata Allah SWT.
Kalo kita teringat, bahwa Ali bin Abi Tholib KW saja pernah kecele di hadapan Nabi karena setelah beliau dites melakukan sholat di hadapan Nabi, ternyata beliau tidak bisa mengerjakan sholat dengan benar benar khusu’ .Ini adalah bukti bahwa khusyu’ dan tidak khusyu’ atau benar dan tidak benar bukanlah kategori penilaian bagi ALLAH SWT, karena kendati sholatnya sahabat Ali KW tidak khusu’ pun tetap dianggap sah oleh Nabi.
Maka dari itu, janganlah sampai kita pernah tertipu oleh obsesi kita atas kebenaran suatu hal bahkan jikapun hal hal yang kita yakini benar tersebut telah nyata nyata tertulis dalam AlQur’an ataupun Hadits, karena apapun kebenaran yang kita yakini adalah hasil dari pemaknaan dan atau pemahaman akal kita yang diqodratkan “ dho’if “ oleh Allah SWT.
Kita hanya perlu yakin seyakin kemampuan diri dan menjadikan apa yang kita yakini sebagai pedoman diri sendiri. Kalaupun kemudian berbeda dengan kebenaran yang diyakini orang lain, maka kita pun boleh mengungkapkannya dan sebatas boleh mendiskusikannya. Tapi kalau sampai kita saling menyalahkan, maka alangkah na’ifnya diri kita karena sekali lagi mana yang benar dan mana yang salah tidaklah penting di mata Allah SWT. Allah Ta’aala hanya akan menilai sejauh mana para hambanya mau berusaha mencari kebenaran itu ada, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing masing. Allah menghukumi dosa dan membalas dengan siksa karena sebab adanya kesengajaan dari pelakunya. Dan Allah memberi balasan pahala berdasarkan sejauh mana kesungguhan niat pelakunya. Sekali lagi hanya karena dua hal tersebut yakni ” kesengajaan dan kesungguhan “, bukan karena benar atau salah. Dan sudah barang tentu hanya Allah sendiri pulalah yang Maha Tahu sejauh mana terdapat kesengajaan, sampai di mana adanya kesungguhan dan sebatas apa kemampuan yang dimiliki para hambaNya.
Laa yukallifulloohu nafsaan illaa wus’ahaa, lahaa maa kasabat wa alaihaa maakatasabat…., al ayah…
11 Juni, 2008 at 6:31 pm
hmm, keren….
bener bener netral, simple, dalem.
good thinking
yup bener dan salah tidak penting,
karena benar bisa jadi salah
dan salah bisa jadi benar.
masalahnya kita semua sebagai manusia tidak punya kemampuan untuk melihat kebenaran ataupun kesalahan yang mutlak.
kalau menurut saya , memang secara kodrat manusia tidak diberi kemampuan lebih dari batas yang di tetapkan oleh 4jj 1 , kecuali memang 4jj 1 memberi kelebihan
tidak masuk akal, tapi masuk akal.
kita hanya bisa comot dari satu keyakinan, dan sebisa mungkin kita punya dasar untuk jadi pedoman hidup, sebagai contoh , sebagai orang yang mengaku termasuk “islam” akan menjadikan “al-qur’an” sebagai pedoman.
betul juga penulis katakan diatas bahwasanya sudah banyak yang mengaku ahli agama tapi kenyataannya bertolak belakang dari yang dia banggakan…
buat penulis diatas, saya pribadi kagum atas pemikirannya.
25 Mei, 2009 at 10:13 am
yapp..setuju!!!
13 Juni, 2008 at 11:23 am
tulisannya bagus, kritis. salam kenal dari saya. wiwit r. fatkhurrahman
13 Juni, 2008 at 8:53 pm
re : wiwit….tulisannya bagus, kritis. salam kenal dari saya. wiwit r. fatkhurrahman
………Terima kasih, semoga Allah senantiasa menerangi akal pikiran kita semua dengan cahaya IlmuNya, Salam kenal kembali..
14 Juni, 2008 at 11:38 pm
http://ressay.wordpress.com/2008/06/13/tanggapan-untuk-ahmad-sarwat-atas-kagum-kepada-ahmadinejadnya/
17 Juni, 2008 at 2:20 am
Apaan lagi nih? Awas lho ada yang bikin blog tandingan Islam Express heheh…
Yang penting bersikap dewasa dalam menyikapi perbedaan, jangan gampang tersinggung. Bentar2 surga dan neraka. Bentar2 rusuh. Bentar2 bubarkan anu, ini dan itu. Keyakinan terhadap agama, apapun agamanya, seharusnya dapat memberikan kontribusi yang POSITIF dan NYATA dalam masyarakat, kalau tidak hanya sekedar simbol.
Sip, peace bro
18 Juni, 2008 at 10:38 am
“benar” ada 3: menurut diri sendiri, masyarakat (manusia), dan ALLAH SWT. Kalau di paragraf 1 anda bilang “kesimpulan yg sebenar2nya”, saya mengasumsikan itu berarti “benar menurut ALLAH” karena ada kata-kata “nantinya”.
Kemudian anda bilang bahwa itu bukan jaminan benar di mata ALLAH. Maksudnya bagaimana?
Aneh saja, bagi saya anda terkesan plinplan. Atau mungkin saya salah, mohon dimaafkan dan diberi tahu.
18 Juni, 2008 at 11:15 am
Benar atau salah tidak penting?
Bagaimana Bisa???
individu dalam menjalani hidup ini tidak akan terlepas dengan konteks sosial (homo homini socius), entah mereka terpaksa atau menyadari bahwa segala sesuatu harus berdasarkan pegangan yang disepakati berdasarkan kekuasaan yang menaungi.
Sebagai warna negara kita toh secara terpaksa atau tidak harus menyatakan bahwa pegangan dalam kehidupan kita adalah berdasarkan hukum yang berlaku melalui undang-undang hingga peraturan dibawahnya.
Sebagi umat beragama (kalau disini dalam konteks agama Islam) tentunya berpegangan pada Alqur’an, hadist dan ijma ulama.
Dengan konteks tersebut tentunya batasan atau rambu mengenai benar atau salah dapat ditetapkan.
Saya memberikan contoh dari dua aspek individu sebagai warna negara dan umat Islam:
Anda melihat ada pengendara sepeda motor berjalan di atas trotoar dan memaki/memarahi pejalan kaki (wanita dan orang tua) karena tidak memberi jalan. Apakah hal tersebut benar?? coba baca uu 14 th 92 dan pp41-44 tahun 1993 , jelas salah!!!! apakah anda akan diam saja melihat kedzoliman tersebut dan mengatakan yang berhak menyatakan benar dan salah adalah polisi sebagai aparat berwenang dan berkuasa?
Anda memiliki seorang anak yang tertangkap basah meminum khamr (minuman keras), dalam al quran jelas meminum khamr adalah haram (tidak di dalam uu negara) dan salah. Apakah anda akan diam saja dan mengatakan bahwa yang berhak menyatakan benar atau salah hanya Allah SWT sebagai Yang berkuasa dan berwenang?
SEmua yang telah tertulis di dalam Alquran dan Hadist telah jelas menyatakan dan mengatur apa yang benar dan apa yang salah dalam tindakan kita sebagai individu dan sebagai mahluk sosial, hablu minallah dan hablumnannas. Tindakan (act) berarti sesuatu yang dilakukan atau hal yang riil. Kebenaran dari apa2 yang harus dilakukan (mis: tidak boleh berzina, harus sholat dan puasa, dsb) sampai masalah keyakinan yang harus diakui secara mutlak (mis: Allah itu esa, Muhammad nabi dan rosul terakhir). Katakan benar bila itu benar dan katakan salah bila itu salah, ini berarti benar dan salah minimal harus dikatakan (wujud tindakan riil).
Jadi Benar dan salah dalam konteks umat beragama di sini tentunya tidak terlepas juga dalam konteks warga negara sehingga tindakan yang dilakukan harus berdasarkan hukum dalam negara.
Saya akan setuju bila statement anda mengenai kualitas seseorang dimata Allah SWT. Walaupun secara sosial ia terkenal sebagai sorang kyai belum tentu ia lebih baik daripada seorang tukang sapu jalan di mata Allah SWT. Kita tidak bisa menghakimi seseorang untuk tidak pantas berada di sisi Nya hanya berdasarkan ‘the way they look’.
Wassalam
18 Juni, 2008 at 5:36 pm
Re : prien…. Benar atau salah tidak penting?..Bagaimana Bisa???………..
Re : Ruki….. “benar” ada 3: menurut…………….
islamregular menjawab;
Kebenaran dan kesalahan sengaja diciptakan oleh Allah SWT agar manusia dapat mengerti serta memahami betapa Maha Adilnya Allah SWT. Kebenaran dibalas pahala dan kesalahan dibalas dosa adalah janji Allah yang harus diyakini kebenarannya. Tetapi sejauh mana keyakinan seseorang terhadap kebenaran yang diketahui bukanlah manusia yang dapat menjastifikasi. Bahkan jika manusia mendasari pembenaran atau penyalahannya tersebut dengan AlQur’an atau Hadits sekalipun, manusia tetap tidak berhak mengakui bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang akan dinilai sudah benar pula menurut Allah. Ini disebabkan karena kemampuan, kesengajaan dan kesungguhan masing masing seseorang dalam meyakini sebuah kebenaran dan atau melakukan kesalahan hanya Allah yang Tahu.
Sebaliknya pengakuan manusia terhadap pembenaran atau penyalahan yang dilakukan justru bertolak dengan hukum keadilan Allah itu sendiri. Mengapa bisa demikian. Mari kita menengok sejarah dengan perenungan yang mendalam. Sedari dulu, beratus bahkan beribu ribu para “alim” telah menelusuri dan meneliti dengan segala kemampuan pengetahuannya tentang Ilmu AlQur’an dan atau Hadits demi mengungkap kebenaran yang sesungguhnya. Tetapi apa yang terjadi, begitu banyaknya para mufassirin, muhadditsin, mujtahidin, mushonnifin dan sebagainya semuanya hanya bisa menyimpulkan kebenaran berdasarkan kacamata ilmu yang dimilikinya masing masing. Harus diakui, dalam banyak hal kesimpulan antara alim yang satu dengan yang lain terkadang berbeda bahkan bertentangan. Jika masing masing di antara mereka kemudian mengakui atau boleh megklaim bahwa kesimpulan dirinya lah yang paling benar di sisi Allah, maka yang terjadi bisa anda bayangkan sendiri, yaitu rusaknya hukum Allah di tangan manusia.
Soal menegur orang berbuat salah, anjuran dalam AlQur’an sudah jelas dan juga cara cara yang pernah dicontohkan Nabi dalam banyak Hadits. Tinggal kita menirunya dan tentunya ada banyak aspek yang harus dipertimbangan dan diperhitungkan agar apa yang kita lakukan tidak sekedar mencari cari dalil pembenaran diri untuk menyalahkan orang lain tetapi bagaimana agar tindakan kita bisa benar benar mendapat ridho dari Allah.
Penting juga untuk direnungkan bahwa jangan pernah sekali kali kita mengaku bahkan merasa puas bahwa tindakan yang kita lakukan adalah yang paling benar menurut Allah. Karena Allah memiliki Ketetapan, Kehendak dan Kuasa yang amat sangat rahasia di mana tidak satu manusia pun bisa menebakNya. Allah adalah Dzat yang “Yaghfiru li man Yasyaa’u, wa Yu’adzzibu li man Yasyaa’u “ Selain itu di dalam Shohih Bukhori Muslim juga diterangkan :
“ Sesungguhnya seseorang “benar benar” beramal seperti amalan penduduk surga seperti Nampak dilihat banyak orang, tetapi ia menjadi penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang “benar benar” mengamalkan amalan penduduk neraka seperti banyak dilihat orang, sedangkan dia adalah penghuni surga.
( dikatakan oleh Nabi dengan kalimat “ laya’malu “ yang berarti benar benar mengamalkan ).
Jangankan sebutan plin plan, bahkan jika saja anda menyebut diri saya ini kafir menurut anda misalnya, maka saya sangat sangat berterima kasih kepada anda karena jangan jangan memang benar demikian adanya di mana saya adalah manusia tersesat yang hanya bisa selalu berharap mudah mudahan diberi petunjuk dari Allah SWT. Dengan RahmatNya, semoga saja tuduhan dan kritikan dari orang lain bisa semakin menggugah diri kita agar semakin teliti dalam mengintrospeksi diri.
Wallohu A’almu.
17 Juli, 2008 at 5:08 pm
Assalammu’alaikum
numpang komment mas, nyasar kesini gara-gara blognya mas haniifa
Benar dan Salah, menurut saya sebagai seorang individu yang juga mempunyai tanggung jawab individu, tentu Teramat Sangat Penting.
Akan tetapi sebagai makhluk sosial..nah, disinilah baru Benar dan Salah tidak selalu harus dipaksakan, namun dioles dengan empati, dan dipropagandakan dengan kebaikan dan simpatik, bukan dengan kekerasan yang menakutkan.
Rasulullah menghadapi orang yang selalu meludahi dirinya tidak dengan kekerasan, namun justru dengan aksi simpatik. Dimana saat orang tersebut sakit, beliau SAW menjenguknya, hingga orang itu tersadar dan masuk Islam, Subhanallah.
19 Juli, 2008 at 9:54 pm
re – aricloud:
Benar dan Salah, menurut saya sebagai seorang individu …
islamreguler : dengan segala kemampuan yang dimiliki masing masing, setiap individu hanya bisa dan boleh berusaha mencari kebenaran untuk diikuti dan kesalahan untuk dihindari. Tapi sekali lagi KEBENARAN DAN KESALAHAN itu sendiri tidaklah penting karena di mata ALLAH yang dinilai hanyalah kesungguh sungguhan dan atau kesengajaan setiap manusia dalam melakukan segala sesuatu. Sebagai contoh, seorang muallaf yang belum bisa melakukan sholat dengan benar, akan tetapi karena kesungguhan niatnya maka sholatnya pun tetap dianggap sah dan bisa saja mendapat pahala yang sama bahkan melebihi orang yang sholatnya telah benar benar sesuai syarat atau rukunnya. Demikian halnya makan daging babi menjadi tidak haram atau tidak berdosa jika memang benar benar dilakukan karena tidak tahu atau karena terpaksa.
Karena BENAR DAN SALAH dianggap penting, maka yang sering kali terjadi adalah terperosoknya kita pada sikap pembenaran dan penyalahan yang kebablasan. Saking bangganya kita dengan kebanaran yang kita yakini, tanpa sadar kita sering dengan gampang mengukur kebesaran ALLAH hanya dengan daya jangkau pikiran kita yang amat sangat terbatas ini. Dan karena alasan kesalahan yang kita tuduhkan, tanpa sadar pula kita sering menuduh dan membatasi sifat Rohman,Rohim dan GhoffarNya ALLAH yang kita tahu adalah tanpa ada batas ukuran luasNya.
Wallohu A”lamu.
10 September, 2008 at 7:40 am
saya beruntung bisa berkunjung kesini. pemahaman beragama dari masing2 orang memang berbeda. dan itu sama sekali bukan sesuatu yang salah selama tidak membuat orang lain kehilangan haknya diakibatkan penafsiran agama yang dilakukan.
saya tidak pernah membayangkan bahwa Allah menciptakan manusia tanpa tahu potensinya untuk memiliki pemikiran yang berbeda-beda. semua dalam ilmu Allah. mari kita temukan Allah. karena kebodohan kita lah yg membuat jarak antara kita dengan Allah.
salam pak. insyaAllah saya akan rain datang kemari.
Salam Alaikum
22 September, 2008 at 9:35 am
saya yang masih fakir ilmu ini hanya bisa termangu melihat hamba-hambaNYa yang diberikan kebaikan dengan pemahaman ilmu agama. semoga Allah memebrikan kebaikan pada saya dengan pemahaman ilmu agama. Amin
terima kasih yach atas silaturahmi dan penjelasannya.
salam
6 Januari, 2009 at 12:14 pm
Assalamualaikum wR wB.
numpang ninggal jejak, ngga sengaja mampir dikasi tau link nya sm temen euy !
Sekadar ninggalin corat-coret aja, doyan nulis juga sihh..
Coretan yang bersumber dari ketulusan hati akan lebih mengena dan berbekas dalam hati pembacanya..
Sebenernya saya ngga ngerti apa2, cuma meneruskan ajah..
Bismillahirrahmanirrahim..
Sesungguhnya, kebenaran itu bersumber dari Allah SWT. Manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kesempurnaan. Manusia adalah makhluk sebaik-baik ciptaanNya. Artinya, manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain. Dengan kelebihan dan kesempurnannya itulah, manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, yang indah dan yang suram, yang hitam dan yang putih, bahagia dan sedih, cinta dan benci, termasuk mana YANG BENAR dan YANG SALAH.
“Siapa mengenal dirinya ia akan mengenal Tuhannya” (Muhammad SAW)
Secara fitrah, manusia (seharusnya) sempurna. Sifat manusia sempurna adalah refleksi dari sifat-sifat Tuhan (Kabir Helminski, penulis literatur sufi dan penerus tradisi Maulawi Jalaluddin Rumi). Tuhan mempunyai sifat yang tidak terbatas yang 99 diantaranya tertulis dalam Al Quran. Kesempurnaan manusia adalah takdir bawaan kita, yang memerlukan hubungan yang harmonis antara kesadaran kita dengan rahmat Ilahi.
Lingkungan hidup lah yang membuat manusia melenceng jauh dari fitrahnya. Lingkungan telah membutakan mata dan hati mereka.
Hanya yang senantiasa menjaga hatinya bersih yang akan mendekati sifat kesempurnaan itu.
“Seorang hamba di antara hamba-hambaKu, yang mencari kedekatan
denganKu melalui amal yang aku wajibkan atasnya,
maka ia sungguh-sungguh menjadi dekat kepadaKu,
malalui amal shalih yang ikhlas sampai Aku mencintainya,
Aku menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar,
dan menjadi matanya yang dengannya ia melihat,
dan menjadi lidahnya yang dengannya ia berbicara,
Bila dia menyeruKu, Aku menjawab,
dan bila dia meminta dariKu sesuatu, Aku memberinya.” (Imam Baqir, riwayat yang menggambarkan makna kedahsyatan kekuatan ikhlas, dalam buku “Hati yang Bersih” nya Gulam Reza Sultani)
Dan Allah akan seperti apa yang disangkakan oleh hambaNya kepadaNya..
jadi, selalu menjaga pikiran dan perasaan kita agar selalu ikhlas kepadaNya, itulah yang terpenting…
Subhanakallahumma wa bihamdika astaghfiruka wa atuubu ilaik..
Jzk, Wassw..
25 Juni, 2009 at 10:38 am
Benar atau salah hanya Allah saja yang tahu. Terkadang kita melihat orang yang salah terlihat benar dan orang yang benar terlihat salah.
5 Juli, 2009 at 9:33 pm
namanya juga ilmu..
sampai disitu saja dulu, yang diberikan tuhan pada kita.
jadi harap sabar.
17 Juli, 2009 at 11:09 pm
Benar dan salah memang relatif disisi manusia…
10 Agustus, 2009 at 7:05 am
Assalamualaikum
akhi link antum sudah ana pasang
tolong link baliknya y
http://nidauljannah.wordpress.com
8 Oktober, 2009 at 6:45 am
Assalamu’alaikum
Klo akhi & teman2 memerlukan referensi agama. (Ebook Al-Qur’an, Kitab2 Hadist, Fiqih, Tausyiah2, Kumpulan Murottal) silakan kunjungi disini
http://nidauljannah.wordpress.com/