ISLAM BUKAN AGAMA…..?
Benarkah Islam adalah agama, atau jangan jangan hanya kita orang Indonesia saja yang mengatakannya demikian. Andai kata benar Islam adalah agama, maka dalam prespektif yang seperti apa sebutan agama itu kita artikan. Lalu kemudian benarkah Islam yang kita sebut sebagai sebuah agama dengan definisi yang kita terapkan, adalah sama seperti maksud Allah ketika menciptakan dan menamai Islam dengan sebutan Addin. Jelas ini bukan sekedar permasalahan makna kata atau istilah yang selalu dipakai manusia dalam memaknai Islam. Akan tetapi kenyataan di jaman sekarang, rasa rasanya ada sesuatu yang ganjil mengenai Islam yang setiap orang menyebutnya sebagai sebuah “agama”.
Islam yang berasal dari Allah SWT yang diberikan kepada seluruh penduduk bumi ini melalui Rosul kekasihNya Muhammad SAW, adalah Islam dalam bentuk ajaran yang memberi contoh atau tuntunan prilaku sehari hari bagi setiap individu. Selain itu Islam mengajarkan suatu keyakinan adanya kehidupan serta kebangkitan setelah kematian dan setelah berakhirnya zaman ini. Pada puncaknaya, Islam akan mendorong setiap manusia akan sampai pada suatu sikap kepasrahan yang mutlak di bawah kehendak dan kekuasaan Allah semata.
Jika Allah menyebut Islam sebagai Addin, maka secara otomatis Addin adalah sebutan yang menggambarkan Islam dalam pengertian yang seutuhnya dan sebenar benarnya. Maha Suci Allah yang telah menyebut Islam sebagai Addin di mana merupakan kata yang mujmal atau masih umum dan secara garis besar sehingga mendorong para hambanya untuk selalu mencari tahu seperti apa hakikat makna yang bisa dianggap muhkamat atau yang sebenarnya bisa dipakai untuk sandaran berpikir.
“Innaddina indaAllahil Islam” adalah kutipan ayat AlQur’an yang sering diartikan bahwa “ sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam “. Memang benar dan jika ditanyakan pada setiap muslim yang ada bahkan para ulama sekalipun sudah pasti makna ayat tersebut adalah memang benar demikian adanya. Akan tetapi, kembali dijelaskan bahwa terlepas dari arti makna yang diterapkan, sadar atau tidak, banyak sekali orang yang kemudian menganggap bahkan meyakini bahwa addin di sini merupakan sebutan dari suatu ajaran agama tertentu dimana seakan akan Allah menyatakan bahwa simbol kebenaran sebuah agama atau addin yang diridhoiNya adalah bernama Islam. Walau benar demikian kiranya, dan pada akhirnya setiap orang pun berlomba lomba mencari tahu hal ihwal tentang Islam dan berusaha menjalani seluruh ajaran yang ada di dalamnya, namun tak dapat dipungkiri bahwa ironosnya para pemeluk Islam kenyataannya banyak sekali yang justru lebih mengejar symbol atau predikat Islam yang ingin disandangnya dibandingkan dengan kesungguhannya dalam menerima dan menjalani tuntunan ajaran ajaran yang ada. Penyebutan symbol atau predikat Islam sebagai agama yang telah disandang, dianggap bisa melegitimasi sebuah kebenaran yang telah dilakukan seseorang dan atau kelompok yang mengatas namakan diri sebagai penyandang atau pemeluk agama Islam tersebut. Tidak jarang seseorang atau kelompok kelompok tertentu yang dengan bersandar pada kutipan ayat AlQur,an di atas dan kerena mereka merasa sudah cukup banyak menjalani ajaran ajaran agama yang ada dalam Islam, maka kemudian mereka pun merasa berbangga diri dengan predikat yang melekat pada dirinya yaitu sebagai pemeluk agama yang paling benar menurut Allah. Pada akhirnya tidak jarang pula orang yang merasa sudah beragama Islam kemudian dengan gampang menyalahkan bahkan memusuhi orang lain hanya karena alasan “agama”.
Jika benar yang dimaksud Allah SWT mengenai addin adalah agama seperti diartikan kebanyakan orang di jaman sekarang, maka seharusnya Islam adalah satu satunya agama yang menjamin adanya kesejahteraan atau kemashlahatan seluruh umat manusia di muka bumi ini sesuai dengan FirmanNya bahwa Islam adalah Rohmatan lil aalamin yang berarti jelas bahwa Allah SWT tidak memilih memilih sesiapa orangnya atau kelompok tertentu. Tetapi paradigma Islam yang dianggap sebagai agama saat ini telah bergeser menjadi pemilah milahan diri maupun kelompok berdasarkan label atau cap agama yang disebut dengan nama Islam. Jika kita mau jujur, dalam hal ini seakan ada penyimpangan bahkan penginkaran yang dilakukan manusia terhadap nilai nilai agama yang sebenarnya seperti yang diharapkan Allah SWT
Memang pada waktu RosuluLLoh menjalankan dakwahnya beliau pernah melakukannya dengan melakukan perang terhadap orang kafir dan sungguh Allah pun menganjurkan agar pemeluk Islam harus bersedia pergi berjihad melawan para musuh bilamana diperlukan. Tetapi jika kita menengok sejarah dengan benar, pada saat itu rosuluLLoh hanya memerangi orang atau kelompok kelompok yang menghalang halangi perjuangan beliau. Sedangkan terhadap orang yang tidak menghalang halangi perjuangan beliau, maka beliau hanya memberi peringatan dan sekali kali beliau tidak pernah memaksa apalagi memusuhinya. Bahkan di saat ketika Nabi berdakwah di kota Tho”if, beliau beserta rombongannya sampai dilempari batu dan diolok olok sepanjang jalan sampai sampai malaikat Jibril tidak tega melihatnya dan hendak memohon kepada Allah agar diijinkan meluluh lantahkan kota tho’if berikut seluruh penduduknya. Tetapi lagi lagi Nabi mencegah tindakan Jibril dan sebaliknya karena alasan tertentu, beliau malah mendo’akan penduduk Tho’if yang melemparinya dengan do’a “ Ya Allah berilah petunjuk kepada para kaumku, sesungguhnya mereka adalah orang orang yang tidak tahu “. Nabi tidak berbangga diri dengan predikat Islam yang dimilikinya dan dengan gegabah menyalahkan apalagi memerangi orang atau kelompok lain. Begitu pula Nabi tidak mengajarkan bahwa Islam yang diajarkannya adalah sesuatu yang boleh dijadikan simbul predikat yang kebenarannya harus diaku akukan kepada orang lain. Itulah Islam yang diajarkan Nabi yang berarti tuntunan perilaku atau tindakan budi pekerti yang luhur serta sikap penyerahan segala sesuatu urusan kembali hanya kepada Allah semata. Sekali lagi Islam bukanlah simbul agama atau identitas yang harus disandang, tetapi Islam adalah ajaran keyakinan dan budi pekerti
Hal sangat aneh yang kini terjadi, sekarang ini perselisihan dan pertengkaran justru banyak terjadi di antara sesama pemeluk agama Islam itu sendiri. Mengapa Islam yang disebut sebagai agama paling benar di Mata Allah justru bertolak dengan pernyataan Allah sendiri yaitu rohmatan lil alamiin. Banyak sekali contoh sejarah yang tidak mungkin bisa disebutkan satu persatu bahwa kekerasan atau kebengisan, ketidak adilan bahkan kejahatan perang pernah terjadi dilakukan oleh orang orang atau kelompok yang mengatas namakan diri sebegai pemeluk agama Islam. Semenjak sepeninggal RosuluLLoh SAW dan juga para Khulafa’urrosyidin RA sampai sekarang , addin selalu dimaknai sebagai sebuah agama, yaitu sebagai simbul predikat yang dianggap bisa melegitimasi kebenaran individu dan atau kelompok sehingga tidak jarang kemudian membuat seseorang merasa telah paling benar sendiri dan boleh menyalahkan orang lain. Alhasil agama merupakan alat yang kemudian dipakai untuk mencari pembenaran diri sendiri dan orang akan mempertahankan kebenaran dirinya atas nama agama yang dianut, walau harus menyalahkan bahkan memushi orang lain dengan menggunakan cara cara yang sebenarnya justru bertentangan dengan nilai nilai yang ada dalam ajaran Islam.
Jika boleh ditarik sebuah kesimpulan, maka boleh jadi Islam bukanlah sebuah agama apalagi dalam pengertian atau pendefinisian yang sekarang ini dipakai banyak orang yaitu agama sebagai label merek atau sarana yang bisa dipakai untuk mencari pembenaran diri dan sesekali dijadikan tempat berkelit atau berlindung dari subyektifitas kesalahan seseorang atau kelompok tertentu. Ungkapan di atas setidaknya cukup menjadi bukti bahwa Islam dan agama adalah dua hal yang bertolak satu sama lain. Apalagi di dalam Islam jelas jelas ditegaskan bahwa hakikat sebuah kebenaran hanyalah Allah yang tahu dan berhak menentukannya dan jika kita benar benar merasa menjadi muslim, maka hal ini pun harus kita yakini seyakin mungkin. Bukti lain bahwa Islam bukanlah agama adalah ayat ke empat pada surah Al Fatihah yang artinya, Allah – adalah yang menjadi Raja pada yaumiddin. Andaisaja kita kaitkan kata yamiddin dengan addiina indaAllahil Islam di mana kedua kalimat tersebut adalah Allah yang mengatakannya, maka mungkin saja ada hal yang terkait di antara keduanya. Addin dalam surat AlFatihah yang dimaknai sebagai hari qiamat atau hari pembalasan seakan berjalan seiring dengan Islam Addin yang mengajarjkan sebuah keyakinan akan adanya hari akhir yaitu hari qiamat. Maka dari itu hakikat makna Addin seharusnya bisa kita terapkan untuk kedua kalimat tersebut baik secara terpisah ataupun secara bersamaan. Yaumiddin memberi gambaran adanya sebuah kenyataan yang akan terjadi suatu saat nanti di mana hanya Allah lah yang menjadi Raja di sana. Sedangkan addin al Islam juga memberi gambaran sebuah kenyataan di mana dalam menjalani kehidupan manusia harus meyakini bahwa segala sesuatu hal adalah berasal dari Allah dan akan kembali pula hanya kepada Allah semata dan karena itu maka hanya Allah jua lah yang secara mutlak mempunyai hak bisa menentukan baik buruk atau benar salahnya sebuah keadaan. Allah menamai Islam sebagai addin disertai berbagai macam pokok pokok ajaran yang bisa menuntun dan membina perilaku manusia sebagai penduduk bumi agar tidak serta merta terlena begitu saja dengan gemerlapnya kehidupan tapi sebaliknya manusia harus mau mentaati hukum yang telah digariskan Allah nan Maha Adil dan Bijaksana karena suatu ketika nanti yaitu pada hari qiamat Allah akan membalas segala amal perbuatan yang dilakukan setiap hambanya semasa hidup di dunia. Kurang dan lebihnya, makna yang dapat dirasakan dari kedua kalimat di atas tidak lain adalah dikabarkannya adanya sebuah kondisi yang benar benar nyata dalam kehidupan yang dialami oleh seluruh manusia yang disebutnya dengan kata “addiin”. Dan seharusnya demikian pula makna addin yang bisa kita rasakan pada surah Annashr, …fii diiniLLahi yang diartikan sebagai jalan Allah, dan juga kata addin pada ayat ayat Al Quran yang lain.
KESIMPULAN
Jika memang Islam harus kita anggap sebagai agama, maka makna agama yang kita rasakan harus benar benar dapat kita letakkan pada pendefinisian dan prespektif yang sebenar benarnya.
“ Innaddiina indaAllahil Islam” harus dipahami dengan makna bahwa “ sesungguhnya kenyataan dalam kehidupan yang sebenarnya menurut Allah adalah segala sesuatu yang ada di dalam Islam .
Sedangkan “ Maaliki yaumiddin “ harus di pahami dengan makna bahwa “ yang menjadi Raja pada hari atau keadaan dimana kehidupan yang benar benar nyata itu ada, baik kehidupan di alam dunia sekarang ini maupun kehidupan kelak di akhirat nanti.
” …yadkhuluuna fii diiiniLLahi ” harus di pahami dengan makna bahwa ” orang orang yang kemudian sampai pada kesadarannya meyakini sebuah kondisi yang benar benar nyata adanya yang digambarkan oleh Allah di dalam Islam yang disebutnya sebagai Addiin.
Dari penela’ahan makna beberapa kitipan ayat ayat di atas, maka kiranya kita semua dapat merenungkan sebuah penafsiran bahwa rasanya terlalu remeh jika kta menganggap ” Islam ” sebagai sebuah agama yang begitu gampangnya dijadikan simbul simbul kebanggaan diri, label pembenaran kelomok dan sebagainya. Alangkah agungnya Islam yang diberikan Allah SWT ini sehingga semestinya Islam harus kita anggap sebagai sebuah kondisi kebenaran yang nyata dimana manusia tidak boleh sekedar mengaku ngaku apalagi membanggakan diri hanya karena merasa dirinya adalah orang Islam. Islam merupakan amanat Ilmu yang bersumber langsung dari Allah SWT dan harus dijaga oleh setiap individu dimana Allah SWT tentu tidak akan rela jika kita manusia kemudian memandang Islam hanya dengan pandangan semau kita sendiri apalagi sampai menggunakan Islam untuk menuruti keinginan atau kepuasan diri yang setiap detik bahkan setiap tarikan nafas dapat saja terselimuti hawa nafsu.
Allahumma in dakholattashbiihu wattaqshiiru fii ma’rifatii iyyaaKa walam a’lam bihii au alimtu Tubtu an’hu wa aslamtu wa aquulu…..
LAA ILAAHA ILLALLAH, MUHAMMADURROSUULULLOH.
WALLOOHU A’LAMU
ayeszembouque
4 Juni, 2008 at 3:31 pm
Wah kayaknya ada benernya juga,sih. kalau Islam adalah agama, berarti sama kaya kristen, hindu, budha dsbgnya. apalagi ada yang bilang bahwa agama kan masuk dalam kategori budaya. sedangkan Islam kan tidak begitu. Salut buat admin yang nulis. Kutunggu tulisan tulisan berikutnya…
9 Juni, 2008 at 1:45 am
mudah2an ga di del….
1… benar islam tidak sekedar pengakuan tapi juga perbuatan
2… kondisi riil saat ini adakah agama lain yang menyatakan
La ilaha illa Allah – Muhammad Rasul Allah? hanya islam bro
3… titip salam buat semua….
seandainya ada “agama” yang lebih mulia, please send email to
ianrevival@yahoo.co.id, maka detik ini juga saya akan menganutnya!
4… jihad..
seperti bahasan lainnya, perlu pendalaman tentang dasar, strategi..
juga etika di dalamnya… jadi tidak bisa dilihat dari satu sisi
5… benar bahwa Allah lah yang maha tahu dan maha benar
9 Juni, 2008 at 8:32 am
salut dech wat yang nulis
9 Juni, 2008 at 9:04 am
Bagus bahasannya … kosakata agama daro bahasa Sanskerta, kalau ngak salah neh … a = tidak, gama = kacau. Jadi, tidak kacaua. Seperti juga sembahyan, menyembah Yang alias dewa. Kalau Islam, sholat.
10 Juni, 2008 at 3:17 pm
Tulisan membingungkan
sebaiknya anda coba kembalikan ke Cak Nurkholis Madjid
tentang makna Islam yang sebenarnya
ok?
11 Juni, 2008 at 6:48 pm
nice ..
tulisan ini bukan hanya sekedar tulisan tentunya,
dan tidak asal bicara tapi didasari dengan pemikiran dan perenungan yang dalam.
11 Juni, 2008 at 7:26 pm
re : nice ..
tulisan ini bukan hanya sekedar tulisan tentunya,
dan tidak asal bicara tapi didasari dengan pemikiran dan perenungan yang dalam.
;
terima kasih atas apresiasinya, siapapun orangnya, sesekali boleh berpikir sejauh kemampuan daya jangkau akalnya masing masing, tetapi tetap menyadari dan jangan pernah lupa bahwa Allah SWT tidak pernah memperkenankan manusia boleh merasa bahwa dirinya lah yang paling benar. Sang Kholiq hanya memberikan pengetahuan yang amat sedikit kepada setiap makhluqNya sehingga sangatlah mustahil hakikat sebuah kebenaran bisa dijangkau hanya dengan menggunakan akal pikiran yang setiap saat selalu bergumul dengan keinginan nafsu.
11 Juni, 2008 at 7:47 pm
re : mudah2an ga di del….
1… benar islam tidak sekedar pengakuan tapi juga perbuatan
2… kondisi riil saat ini adakah agama lain yang menyatakan
La ilaha illa Allah – Muhammad Rasul Allah? hanya islam bro
3… titip salam buat semua….
seandainya ada “agama” yang lebih mulia, please send email to
ianrevival@yahoo.co.id, maka detik ini juga saya akan menganutnya!
4… jihad..
seperti bahasan lainnya, perlu pendalaman tentang dasar, strategi..
juga etika di dalamnya… jadi tidak bisa dilihat dari satu sisi
5… benar bahwa Allah lah yang maha tahu dan maha benar\
; Islam lah yang membuat segala sesuatu urusan bisa diselesaikan dengan mudah. Islam lah yang membuat suasana carut marut menjadi damai dan indah. Kemudahan harus bisa dirasakan oleh seluruh alam – bukan hanya oleh individu atau golongan. Keindahan harus bisa dinikmati oleh seluruh alam – bukan hanya oleh seseorang atau kelompok.
Segala urusan menjadi sulit dirasakan oleh seluruh alam, karena manusia banyak yang lebih membela kepentingan diri dan golongannya – bukan membela Islam yang sebenarnya.
Suasana menjadi tidak indah dilihat seluruh alam karena manusia banyak yang menyebarkan kotoran bahkan fitnah hanya demi mempertahankan semangat nafsu – dengan memperkosa Islam hanya pada bingkai akal pikirannya saja.
13 Juni, 2008 at 7:13 am
saya tidak setuju dengan tulisan anda, sebab anda terlalu pesimis
kalau ada saat ini orang islam yang bermasalah, tentunya orang itu yang bermasalah, bukan agamanya dan islam sendiri adalah nama agama yang sudah jelas, seperti surat nabi kepada raja ketika itu yang berisi, ‘aslim taslam’, nah kalau nama islam bukan agama lalau apa arti kata itu?
WASALAM
13 Juni, 2008 at 8:49 pm
re – idrus ali :
saya tidak setuju dengan tulisan anda, sebab anda terlalu pesimis
kalau ada saat ini orang islam yang bermasalah, tentunya orang itu yang bermasalah, bukan agamanya dan islam sendiri adalah nama agama yang sudah jelas, seperti surat nabi kepada raja ketika itu yang berisi, ‘aslim taslam’, nah kalau nama islam bukan agama lalau apa arti kata itu? WASALAM
……..; ALIKUMUSSALAM..,
………Setiap orang berhak setuju dan berhak tidak setuju kepada sikap atau pendapat orang lain. Tapi yang terpenting adalah kesetujuan dan atau ketidak setujuan kita harus didasari niat dan pengharapan semoga diterima di sisi Allah SWT sebagai amal ibadah.
……..Akhlaq RosuluLLoh adalah selalu pesimis dalam tindakan – karena kehati hatiannya, Sebaliknya tetap optimis dalam keyakinan – karena Allah maha mengetahui segala apa yang kita lakukan dan kita harapkan dariNya. itulah wujud tawaddhu’ dan tadhorru’. Terlalu optimis dalam perbuatan akan berakibat pada tumbuhnya sifat ujub dan sombong. Apalagi sebagai muslim tentunya kita sadar bahwa optimisme kita dalam meraih suatu tujuan, pada akhirnya semua kembali bergantung kepada kuasa dan kehendak Allah.
……..aslim taslam adalah ajakan seorang “NABI” kepada seseorang dengan bahasa yang simpel karena raja Hercules waktu itu memang sama sekali belum mengenal apa itu Islam. Nabi hanya menceritakan tentang pahala dari Allah jika sang raja mau memngikutinya dan juga adanya dosa yang akan ditimpakan jika menolaknya. pada pesan terakhir Nabi hanya menyampaikan : Jika kamu mengelak, maka akuilah dengan kesaksian bahwa kami ( Nabi dan umatnya ) adalah orang orang Islam. Tidak ada sedikitpun sikap dari diri pribadi Nabi yang menunjukkan nada nada cemoohan,ancaman apalagi paksaan.
…….Dalam banyak riwayat hadits Nabi mengatakan bahwa Islam dibangun di atas lima perkara… syahadat dstrusnya. Islam adalah jika kamu bersyahadat…dstrusnya. Sekali sekali Nabi tidak pernah mengatakan bahwa Islam adalah sebuah golongan yang mengaku akukan diri menyandang predikat gelar dengan simbul sekte yang disebut agama. Pada tulisan saya, andaikata Islam memang harus kita sebut sebagai agama maka agama harus benar benar kita maknai secara hati hati. Jadi sekali lagi substansinya adalah seputar pemahaman Islam secara kompreheship berdasarkan pemaknaan istilah kata “agama”
……..jika alam raya ini kita ibaratkan seperti bangunan rumah, maka Islam adalah nuansa kedamaian dan ketentraman yang melingkupi seluruh dimensi ruang yang ada.
17 Juni, 2008 at 8:33 am
Rasulullah memberikan pedoman bahwa sebagai acuan, Kebenaran dalam Islam adalah kesesuaian secara kaffah dengan
1. Al-Qur’an sebagai pedoman kebenaran
2. Hadist Rasulullah
dua inilah yang dijamin oleh Rasul Tidak akan sesat selamanya bukan pola pikir semata. mari kita samakan langkah untukebenaran. bukan emosional.
17 Juni, 2008 at 8:43 am
Muslim itu memang bukan agama, tapi lebih tepat ke Kriteria….
Kriteria orang yang selamat dari penggunaan waktunya yang sedikit di dunia ini untuk mendapatkan ketenangan di hari setelah dunia ini dan kehidupannya berakhir….Kriterianya jelas; mau apapun agamanya atau nama kepercayaannya. kriterianya yang selamat adalah(tak peduli apapun nama agamanya, karena ini persoalan personal per pribadi dengan tuhannya) :
-berTuhan satu(Monotheisme) atau tidak mencampur2 tuhan, tidak syirik dan menambah2 tuhan
-berbuat baik dalam hidupnya
-percaya pada hari akhir
Umat islam diminta menunaikan shalat karena akan lebih mudah masuk dalam kriteria tadi jika manusia benar2 bisa melakukan kontak secara teratur dengan tuhannya dalam hal ini melalui shalat, jadi bukan shalatnya yang membuat orang menjadi selamat, tapi akibat shalat itu dia menjadi masuk kedalam 3 kriteria saya sebut diatas tadi…..
sekilas hal ini absurd ya, tapi kriteria pertama penting sekali karena ini totalitas, kriteria kedua adalah general etik manusia dalam hubungannya dengan alam dan manusia lain, sedangkan kriteria ke 3 adalah kesimpulan logik dari ilmu pengetahuan….
Shalat yang sadar akan penyerahan diri ke satu tuhan bisa mengantar ke kefahaman akan kriteria 1-2-3 tadi karena zaman dahulu tidak ada pengetahuan tentang bahwa alam semesta ini akan berakhir…..
Jadi jika ada ilmuwan, dia berkesimpulan bahwa Alam semesta akan berakhir dan dia berbuat baik maka tinggal sedikit lagi langkahnya akan tiba di ketuhanan satu….dan dia akan selamat apapun agamanya….
Tapi, kalau dia tetap saja bertuhan 3 atau 2 atau malah 5 maka semua pengetahuan dia sia2…..
semoga hal ini mencerahkan….
salam
LOGIC
18 Juni, 2008 at 5:46 pm
Janganlah membuat tafsiran dan penjelasan mengenai Islam yang tidak sejalan dengan apa yang telah diajarkan Rasulullah Muhammad saw dan pemahaman generasi pertama dan terbaik dari ummat ini…
Beragamalah sebagaimana orang-orang shalih dahulu dan orang-orang sholeh sekarang beragama…
Kebenaran memang hak mutlak Allah, namun dalam tataran praktis kebenaran tersebut dijelaskan secara terang dalam prilaku Rasulullah saw, sahabatnya, dan generasi terbaik setelahnya…
Bukan penafsiran yang “hanya” mengedepankan logika…
19 Juni, 2008 at 11:03 pm
re : Sudrajat ….Janganlah membuat tafsiran dan penjelasan mengenai Islam …..
islamreguler :
Wah kalau ditanya, semua muslim di muka bumi akan mengatakan bahwa Islam yang dianutnya adalah meniru apa yang pernah diajarkan Nabi sesuai apa yang telah dipehami atau ditafsirkan para sahabat salafussalih terdahulu. Dan rata rata karena mereka merasa sudah menjalankan kewajiban syar’inya sebagai muslim seperti sholat, puasa dan sebagainya, kemudian mereka mengaku dirinya adalah sholeh. Lalu tidakkah kita perlu berhati hati dan benar benar teliti membedakan mana yang benar benar bercermin pada kepribadian Nabi yang selalu tawaddhu’ dan tadhorru’, dan siapa yang kira kira berprilaku menurti kehendak nafsunya sehingga Islam, Al Qur’an dan Hadits pun dibawa bawa untuk menutupi keangkuhan dan kesombongannya.
23 Juni, 2008 at 1:52 pm
apakah postingan2 disini dr pikiran anda? Ya dan Bukan Tidak Penting.
Saya hanya mau anda tau kalo saya pernah ngucapin syukur alhamdulillah wasyukurillah akhirnya Tuhan memberikan hidayahnya shg saya sampe blogini setelah selama ini ‘neg betul kalo kadang2 lagi iseng2 blogwalking ke blog2 yg mengatasnamakan Agama Islam.
Hi guys, let me tell you “Benar dan Salah saya tetep sualluuuut”
23 Juni, 2008 at 2:06 pm
sori, ini ndak usah digubris, saya hanya pengin asal ngoceh kok
Inget kisah waktu seorang anak seorang ulama terkenal di negeri ini (ndak usahlah disebut namanya ya… ) dicritain tentang negeri yg rakyatnya merasa tertib, aman, sejahtera, dsb pokokntya yg indah2 lah padahal penduduknya boleh dibilang tak ada yang mengaku beragama Islam. Kemudian sang anak bertanya kepada Bapaknya, “Mengapa di Indonesia yg mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam kok malah jauh lebih berantakan dari negeri itu?”
Jawab sang ulama: “Mereka telah menjalankan syariat2 Islam secara lebih benar drpd orang2 yg selama ini mengaku beragama Islam, hanya saja mereka BELUM mengucapkan syahadat, sholat, dst”
1 September, 2008 at 9:23 pm
Assalamua’lakum
maudu’ blog sampeyan “Islam Reguler” maksudnya apa? sekarang banyak sekali istilah yang memakai embel2 islam ada islam transformatif, Islam liberal, Islam komunis, sampeyan mencoba mengenalkan Islam Reguler.
kang, menjelang pemilu agama khususnya akan menarik karena akan dibawa ke arena politik praktis.
Salam kenal
Wassalamu’alaikum
Achsin El-Qudsy
3 September, 2008 at 12:18 am
Re: ahsin……
Alaikum salam…
Salam kenal juga, saya ucapkan terima kasih banyak, ternyata tetangga dari “kudus kulon” ada yang mau mampir juga.
Pertama saya akan bertanya balik sama sampean, “ maudu’ “ yang sampean katakan itu maksudnya apa. Kemudian kalau sampean nanyanya Islam reguler apa maksudnya, jujur saja saya juga bertanya tanya kira kira apa maksud sampean nanya seperti itu.
Kalau buat saya pribadi, sebenarnya tidak terlalu mengambil pusing orang menyebut Islam dengan embel embel apapun. Semua kembali bergantung pada siapa dan bagaimana memahami esensi definitif dari embel embel yang disertakan.
Menurut saya sangat sederhana sekali, ibarat sebuah mobil angkutan, Islam adalah “ bus reguler “, bukan patas AC atau taksi terlebih lagi mobil pribadi. Di dunia ini Islam cuma ada satu yaitu bus reguler yang dikemudikan oleh Kanjeng Nabi. Selaku sopir,Beliau tidak pernah membeda bedakan siapa saja yang mau nunut asalkan mau tertib dan teratur. Namanya saja di dalam bus reguler, jadi setiap penumpangnya harus berlapang hati karena situasi atau suasananya terkadang bisa saja suk sukan, sumpek, pengap dan sebagainya. Orang Muhammadiah jangan mentang mentang kaya atau pinter lantas boleh mengusir orang NU yang miskin, kuper dan abangan yang sudah lebih dulu dapet tempat duduk. Orang Wahabi jangan mentang mentang duduk di depan lalu merasa bisa melihat arah tujuan lantas melecehkan orang orang syi’ah yang suka diam di pojok atau duduk di belakang. Sebagai seorang sopir, Kanjeng Nabi pasti akan kecewa bahkan mungkin marah jika para penumpang yang diangkutnya malah membuat gaduh, eyel eyelan mulai dari berebut tempat duduk, gontok gontokan, saling mengkafirkan apalagi saling membunuh.
Wallahu a’lamu
5 September, 2008 at 11:02 am
tulisan anda memang luar biasa ,
saya oke banget dengan tulisan tersebut ,tapi anda ada link ke jil nggak ? soalnya mirip mirip gitu lho
1 November, 2008 at 3:18 am
anda cukup berani menulis seperti ini, pada kondisi seperti sekarang ini. selamat, bukan berarti saya berpihak atau tidak, melainkan bentuk apresiasi saya terhadap kejelian anda membuka perspektif lain.
jujur saja saya awam tentang hal ini, tapi saya berusaha tidak memaksakan diri memahami tulisan anda. sebaliknya saya berusaha untuk iklas menerima pada kondisi ke-awaman saya seperti sekarang ini. seperti halnya judul yang anda gunakan “benar salah tidak penting”, buat saya lebih penting berusaha mengenali diri saya sendiri dulu, untuk kemudian mengenal ketuhanan kita.
mohon koreksi atas kesalahan tulisan saya, setidaknya demikianlah bentuk apresiasi saya sebagai awam. salam buat semua : bhayuputra@yahoo.com
andum slamet,
bhayuputra
11 November, 2008 at 2:00 pm
re. bayu
memang Mas, Keawaman dan kekaprahan tentunya, kadang harus kita terima sebagai pemberian Allah juga. Namun kita perlu hati hati menyikapi segala hal terutama yang berhubungan langsung dengan Allah. Berkali kali Allah menjelaskan. Qoliilan maa ta’qiluun, Qoliilan maa tatafakkaruun, Qoliilan maa tadabbaruun dan lain sejenisnya. Mudah mudahan kita semua selalu mendapat petunjuk dariNya, Amiin
1 Desember, 2008 at 12:53 pm
Ass.wrwb..
Maaf ikut komen mumpung mampir.. Menurut sy, tulisan ini maknanya dalam.. ibarat galian lobang yg dalam, memungkinkan orang terperosok disitu.
Sy merasa cocok dgn nilai2 yg tersirat di dlmnya, ttg bgmana seharusnya islam,.. dan sudah dgn benarkah kita berislam?… tetapi sekaligus sy kurang nyaman bhw tulisan ini terkesan aga beda, berani.
“tidak diutus aku, kecuali untuk menyempurnakan akhlak”-hadits-
Salam… semoga Anda sampai pada pencarian… Insy..Amiin
12 Desember, 2008 at 9:25 am
Kalau makna din = agama , maka Islam adalah salah satu agama.
Penggunaan din dalam Al-Qur’an
1. dinullah =Agama Allah( QS An-Nashr ayat 2)
2. dinulhaq = Agama yang benar(QS Ash-Shof ayat 9)
3. dinikullihi= Agama sekaliannya(QS Ash-Shof ayat 9)
4. dinulqayyim= Agama yang lurus(QS Ar-rum ayat 30)
4. innadina indallahil Islam= sesunguhnya Agama Disisi Allah adalah Islam( Qs Ali Imran ayat. 19)
dan lain-lain
13 Desember, 2008 at 11:03 am
Re: Bustamam…
Terimakasih atas koreksinya. Sejujurnya saya juga tidak menolak jika Islam yang adalah addin dianggap sebagai agama, seperti halnya pada poin terakhir tulisan saya. Tapi persoalannya sekarang, fakta menunjukkan bahwa orang yang merasa beragama termasuk saya mungkin, seakan akan dipaksa harus menginterpretasikan agama sebagai pembenar diri. Pada kontek ini seakan terdapat kepentingan diri manusia yang berlomba dalam pencarian setatus kebenaran dimana tanpa sadar implikasinya selalu berakhir pada jastifikasi terhadap diri dan atau kelompok orang orang lain. Padahal Islam adalah rahmat untuk semua, bukan pendikotomi kelompok tertentu.
Saya mau tanya, apakah boleh kita menyalahkan orang orang non muslim yang tidak mau beriman pada Allah dan RosulNYA, jika hal tersebut dilakukan karena mereka benar benar tidak tahu? Jika Islam adalah salah satu agama agama yang ada, maka sangatlah kasihan orang orang yang tidak memeluk agama Islam yang kemudian dipersalahkan, dihukumi sesat, pasti masuk neraka dan sebagainya., padahal boleh jadi itu dilakukan karena sebab ketidak mengertian atau ketidak pahamannya mengenai Islam. Karena Islam dianggap agama, maka non Islam pun terpaksa harus menganggap bahwa agama Islam adalah rival bagi mereka. Padahal tidak ada ajaran Allah yang mengatakan demikian. Yang ada hanya non muslim dihukumi salah oleh Allah SWT berdasarkan ketentuanNYA, bukan oleh sesama manusia yang mengatasnamakan hukum Allah. Manusia hanya boleh yakin dan mengikuti petunjuk Allah sebagai pedoman diri, bukan untuk menghukumi orang lain. Mengapa demikian? Karena boleh jadi semua perbedaan ini ada karena sengaja diciptakan Allah sebagai ujian dan apapun keputusan yang kita ambil harus kembali kita pulangkan padaNYA.
Kemudian muncul kalangan liberalis yang berani membenarkan semuanya. Apakah mungkin? Padahal jelas jelas Allah menurunkan SunnahNYA melalu Muhammad. Sementara liberalis menyimpulkan berdasarkan data empiris. Lagi lagi tidak dapat disangkal bahwa dalam hal ini ada indikasi kepentingan manusia yang bicara.
Nah, sejauh mana kita menyadari bahwa Islam mendorong kita agar segala urusan atau perbuatan tidak boleh ada yang kita niatkan selain sebagai manifestasi penghambaan kita kepada Allah SWT. Di dalam Islam, kepentingan diri dan kelompok, apapun namanya termasuk agama, harus bisa dikesampingkan karena harus selalu diingat bahwa kendali seluruh alam raya ini hanya ada padaNYA. Manusia hanya boleh berserah diri dengan sepenuh hati, tidak setengah setengah.
Perlu dicatat, bahwa dengan penyerahan diri yang kita lakukan, bukan berarti kita manusia lantas tidak bisa atau tidak mau melakukan apa apa. Karena Islam mengajarkan keyakinan adanya kuasa dan kehendak Allah dalam setiap apapun yang terjadi. Bahkan selembar daun yang jatuh pun terjadi atas kehendakNYA, meskipun kelihatannya disebabkan karena terpaan angin atau pohon yang sengaja digoyangkan manusia. Begitu juga yang terjadi pada seluruh manusia. Semuanya mutlak dibimbing dan dituntun berdasarkan kehendakNYA.
Dan dengan menganggap Islam sebagai salah satu agama yang ada, maka tanpa sadar kita sering terjerembab dalam jebakan budaya atau sebab akibat yang hanya diciptakan manusia demi tercapainya keinginan dan kepentingan manusia juga. Akibatnya hukum Allah menjadi terdegradasi karenanya.
Selain daripada itu, selayaknya kita telaah pula. Bahwa jika Islam adalah salah satu di antara agama agama yang ada, kenapa tidak disebutkan pula adanya ‘addiinul yahuudi, atau addiinunnashoro dsbnya’
wa ALLAHU A’LAMU..
29 April, 2009 at 2:26 pm
Buat penulis : saya sarankan kepada anda untuk banyak-banyak membaca!!!
Apa yang anda tulis kelak akan dimintai pertanggung jawaban!
Pelajari dan pahami Al-quran dan Hadits sesuai dengan pemahaman Rosululloh dan para sahabatnya, bukan dengan pemahaman akal kita sendiri.
Jangan sampai kita semua membuat tulisan yang sesat lagi menyesatkan.
20 Juni, 2009 at 9:06 pm
Islam memang bukan agama. Islam adalah pergerakan politik.
Baca tulisan ali sina (terjemahan) di sini:
http://jelasnggak.wordpress.com/2009/06/19/kutipan-kata-kata-ali-sina-1/
25 Agustus, 2009 at 9:12 am
Kalau gak nngerti sama ISLAM dan PLURALISME baca saja disini : http://emilliano.multiply.com/tag/pluralisme
6 Oktober, 2009 at 5:57 am
bagi saya sih tulisan anda biasa saja. tapi, harus di dasar antara sesuatu yang obyektif (tanda-tandanya) dan sesuatu yang subyektif. malnya, memetik ayat alquran dengan sepotong-sepotong, ditambah tidak disertakan sebab musabab turunya ayat. kalau anda mau misalnya, memtik kata “aldin” dalam alquran, sebaiknya semua kata “aldin” dalam alquran anda sertakan, ada berapa banyak tuuh. kelemahan kita sebagai yang mengaku orang Islam–kebanyakan–adalah memahami alqur’an tidak secara kaaffah. dengan sepotong2. ini akan berfbahaya.
bagi saya, tulisan anda, merupakan pendapat biasa. terlepas dari kemampuan anda dalam memahami agama, atau sebaliknhya, ketidakmampuan anda. dalam hal ini anda di posisikan sebagai orang yang tidak boleh mengaku yang paham betul tentang agama bukan? jika anda mengaku begitu, sebarapa jauh anda di akui oleh banyak orang. setidaknya pengakuan banyak orang itu akan mendekatkan bahwa pendapat anda itu mendekati kepada kebenaran.
saya tidak tahu persis, latarbelakang anda. mungkin, saya rasa andaakan cocok, jika anda memposisikan diri sebagai orang yang netral. saya akan lebih tertarik pada anda, jika menulis perbandingan semua agama yang ada di dunia ini, sehingga jika anda berislam (bahkian beragama) adalah merupakan pilihan anda. masuk akal kan…
yah, wong orang di beri akal kan dengan kemampuan yang berbeda-beda. jangan paksakan kepada orang lain untuk sama dalam berpikir sesuatu….
tulsian anda, baik-baik saja untuk membuka cakrawala kita berpikir tentanbg Islam.kita harus meyakinidulu bahwa alquran dan islam akan kebenarannya datang dari Allah SWT. jika belum yakin, posisikan anda dalam posisi yang netral, sehingga bisa mengkaji semua agama (alias perbandingan agama-agama)…ini menghindari berislam itu karena warisan saja,….ikut-ikutan saja, bukan karena pilihan.
tapi saya berislam, karena warisan juga, taqdir, namun selalu mendalami Islam itu sendiri melalui alquran dan hadits.
salam,