BENAR DAN SALAH TIDAK PENTING

Posted 11 Juni, 2008 by islamreguler
Categories: Islam Kaaffah

ALLAH SWT tidak menilai atau memberi pahala berdasarkan sejauh mana kepastian akan kebenaran sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia. Sebagai contoh bahwa, jikalau pun suatu masalah yang sedang kita diskusikan dalam forum seperti ini nantinya akan menghasilkan sebuah kesimpulan yang sebenar benarnya misalnya, maka hal itu tidaklah menjadi jaminan bahwa apa yang kita yakini dan jalani kemudian akan dinilai benar pula oleh Allah. Apalagi sampai bisa menjamin bahwa amal perbuatan kita diterima dan kita mendapat pahala sorga kelak.

Manusia wajib meyakini kebenaran yang ada dalam Islam, akan tetapi tidak boleh mengakui kebenaran itu sebagai miliknya. Sebaliknya, setiap muslim justru harus mengakui kesalahan seluruh perbuatan yang dilakukannya bahkan mengakui kesesatan atas jalan yang dilaluinya di mata Allah. Bukti kesungguhan pengakuan tersesatnya seorang muslim selalu terus terbawa seperti halnya ketika mengerjakan sholat dengan panjatan do’a “ Ihdinasshiroothol mustaqiim “. Tidak cukup dengan hal itu, bahwa seseorang yang benar benar muslim akan selalu berdo’a dengan sikap perasaan berharap harap cemas atau yang disebut dalam AlQur’an dengan istilah “ roghoban wa roohinan “, Al Anbiyaa’-90, sekali lagi, karena mereka sadar bahwa kesesatan memang sedang ditimpakan kepada setiap manusia yang menjalani hidup dan Allah SWT hanya akan menolong serta memberi hidayah hanya kepada orang orang yang benar benar selalu berharap.

Yang membuat kita semua tidak habis pikir, apalagi kalau kita bicara kondisi riil, di jaman sekarang ini banyak sekali orang yang mengaku ahli “ Laa Ilaaha illAllah “ dan mengaku menjadi muslim yang taat, akan tetapi sepak terjang perbuatannya justru bertolak dengan apa yang harus mereka akui setiap harinya yaitu ketika mengerjakan sholat. Kebenaran selalu diakui dan diagung agungkan menjadi miliknya. Dengan pekikan yel yel “ Allaahu Akbar “ mereka dengan penuh percaya diri berani memasang wajah garang penuh amarah seolah olah kebenaran yang diakukannya telah mendapat rekomendasi dari Allah, kemudian entah sadar atau tidak mereka lupa dengan kesesatan yang harus mereka akui dan malah justru mengalamatkan kesesatan itu kepada orang lain. Sewajarnyalah jika kemudian ada orang bertanya “ selain mereka sendiri dan kelompoknya, adakah yang menjamin bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar benar telah diridhoi Allah “. Dan jika mereka menjawab dengan dalil dalil AlQuran atau Hadits misalnya, maka tidakkah AlQuran atau Hadist tersebut adalah ayat atau riwayat yang mereka pinjam dan mereka pahami hanya dengan pencernaan makna yang secara kebetulan saja sesuai dengan selera atau kesukaan mereka sendiri yang tidak luput pula dari kehilafan bahkan kesalahan.

Jika saja orang orang seperti ini adalah benar benar muslim, lalu dimanakah manifestasi Ihdinasshirothol Mustaqiim dan juga Roghoban wa Rohinan itu ada pada diri mereka.

Perlu diingat dan selalu diyakini bahwa qodrat manusia adalah “dho’if ”. Banyak sekali yang bersepakat bahwa hal yang dho’if tidak dapat dijadikan alat pengukur sebuah kebenaran. Saat memberi keterangan tentang kebenaran, Allah jelas jelas memasang benang merah dengan Mengatakan “ al haqqu min Robbika ………., al ayah.. “. Allah pun menghimbau agar jangan sekali kali kita manusia termasuk orang orang yang ragu dengan hal tersebut.

Korelasi antara dho’ifnya manusia dan kebenaran mutlaq yang hanya berasal dari Allah SWT seakan memberi isyrarat bahwa manusia memang ditaqdirkan tidak akan dapat menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga seperti yang sudah disinggung di atas, meski sepandai apapun manusia tetap harus meyakini dan tidak boleh ragu ragu bahwa di hadapan Allah manusia akan tetap selalu kurang, kalah serta salah dalam segala hal, bukannya malah sebaliknya yaitu merasa cukup dan merasa sudah benar apalagi sampai mengatas namakan Allah dan berani menyalahkan orang lain yang belum tentu salah di mata Allah SWT.

Kalo kita teringat, bahwa Ali bin Abi Tholib KW saja pernah kecele di hadapan Nabi karena setelah beliau dites melakukan sholat di hadapan Nabi, ternyata beliau tidak bisa mengerjakan sholat dengan benar benar khusu’ .Ini adalah bukti bahwa khusyu’ dan tidak khusyu’ atau benar dan tidak benar bukanlah kategori penilaian bagi ALLAH SWT, karena kendati sholatnya sahabat Ali KW tidak khusu’ pun tetap dianggap sah oleh Nabi.

Maka dari itu, janganlah sampai kita pernah tertipu oleh obsesi kita atas kebenaran suatu hal bahkan jikapun hal hal yang kita yakini benar tersebut telah nyata nyata tertulis dalam AlQur’an ataupun Hadits, karena apapun kebenaran yang kita yakini adalah hasil dari pemaknaan dan atau pemahaman akal kita yang diqodratkan “ dho’if oleh Allah SWT.

Kita hanya perlu yakin seyakin kemampuan diri dan menjadikan apa yang kita yakini sebagai pedoman diri sendiri. Kalaupun kemudian berbeda dengan kebenaran yang diyakini orang lain, maka kita pun boleh mengungkapkannya dan sebatas boleh mendiskusikannya. Tapi kalau sampai kita saling menyalahkan, maka alangkah na’ifnya diri kita karena sekali lagi mana yang benar dan mana yang salah tidaklah penting di mata Allah SWT. Allah Ta’aala hanya akan menilai sejauh mana para hambanya mau berusaha mencari kebenaran itu ada, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing masing. Allah menghukumi dosa dan membalas dengan siksa karena sebab adanya kesengajaan dari pelakunya. Dan Allah memberi balasan pahala berdasarkan sejauh mana kesungguhan niat pelakunya. Sekali lagi hanya karena dua hal tersebut yakni ” kesengajaan dan kesungguhan “, bukan karena benar atau salah. Dan sudah barang tentu hanya Allah sendiri pulalah yang Maha Tahu sejauh mana terdapat kesengajaan, sampai di mana adanya kesungguhan dan sebatas apa kemampuan yang dimiliki para hambaNya.

Laa yukallifulloohu nafsaan illaa wus’ahaa, lahaa maa kasabat wa alaihaa maakatasabat…., al ayah…

ISLAM BUKAN AGAMA…..?

Posted 2 Juni, 2008 by islamreguler
Categories: IslamNYA

Benarkah Islam adalah agama, atau jangan jangan hanya kita orang Indonesia saja yang mengatakannya demikian. Andai kata benar Islam adalah agama, maka dalam prespektif yang seperti apa sebutan agama itu kita artikan. Lalu kemudian benarkah Islam yang kita sebut sebagai sebuah agama dengan definisi yang kita terapkan, adalah sama seperti maksud Allah ketika menciptakan dan menamai Islam dengan sebutan Addin. Jelas ini bukan sekedar permasalahan makna kata atau istilah yang selalu dipakai manusia dalam memaknai Islam. Akan tetapi kenyataan di jaman sekarang, rasa rasanya ada sesuatu yang ganjil mengenai Islam yang setiap orang menyebutnya sebagai sebuah “agama”.

Islam yang berasal dari Allah SWT yang diberikan kepada seluruh penduduk bumi ini melalui Rosul kekasihNya Muhammad SAW, adalah Islam dalam bentuk ajaran yang memberi contoh atau tuntunan prilaku sehari hari bagi setiap individu. Selain itu Islam mengajarkan suatu keyakinan adanya kehidupan serta kebangkitan setelah kematian dan setelah berakhirnya zaman ini. Pada puncaknaya, Islam akan mendorong setiap manusia akan sampai pada suatu sikap kepasrahan yang mutlak di bawah kehendak dan kekuasaan Allah semata.

Jika Allah menyebut Islam sebagai Addin, maka secara otomatis Addin adalah sebutan yang menggambarkan Islam dalam pengertian yang seutuhnya dan sebenar benarnya. Maha Suci Allah yang telah menyebut Islam sebagai Addin di mana merupakan kata yang mujmal atau masih umum dan secara garis besar sehingga mendorong para hambanya untuk selalu mencari tahu seperti apa hakikat makna yang bisa dianggap muhkamat atau yang sebenarnya bisa dipakai untuk sandaran berpikir.

Innaddina indaAllahil Islam” adalah kutipan ayat AlQur’an yang sering diartikan bahwa “ sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam “. Memang benar dan jika ditanyakan pada setiap muslim yang ada bahkan para ulama sekalipun sudah pasti makna ayat tersebut adalah memang benar demikian adanya. Akan tetapi, kembali dijelaskan bahwa terlepas dari arti makna yang diterapkan, sadar atau tidak, banyak sekali orang yang kemudian menganggap bahkan meyakini bahwa addin di sini merupakan sebutan dari suatu ajaran agama tertentu dimana seakan akan Allah menyatakan bahwa simbol kebenaran sebuah agama atau addin yang diridhoiNya adalah bernama Islam. Walau benar demikian kiranya, dan pada akhirnya setiap orang pun berlomba lomba mencari tahu hal ihwal tentang Islam dan berusaha menjalani seluruh ajaran yang ada di dalamnya, namun tak dapat dipungkiri bahwa ironosnya para pemeluk Islam kenyataannya banyak sekali yang justru lebih mengejar symbol atau predikat Islam yang ingin disandangnya dibandingkan dengan kesungguhannya dalam menerima dan menjalani tuntunan ajaran ajaran yang ada. Penyebutan symbol atau predikat Islam sebagai agama yang telah disandang, dianggap bisa melegitimasi sebuah kebenaran yang telah dilakukan seseorang dan atau kelompok yang mengatas namakan diri sebagai penyandang atau pemeluk agama Islam tersebut. Tidak jarang seseorang atau kelompok kelompok tertentu yang dengan bersandar pada kutipan ayat AlQur,an di atas dan kerena mereka merasa sudah cukup banyak menjalani ajaran ajaran agama yang ada dalam Islam, maka kemudian mereka pun merasa berbangga diri dengan predikat yang melekat pada dirinya yaitu sebagai pemeluk agama yang paling benar menurut Allah. Pada akhirnya tidak jarang pula orang yang merasa sudah beragama Islam kemudian dengan gampang menyalahkan bahkan memusuhi orang lain hanya karena alasan “agama”.

Jika benar yang dimaksud Allah SWT mengenai addin adalah agama seperti diartikan kebanyakan orang di jaman sekarang, maka seharusnya Islam adalah satu satunya agama yang menjamin adanya kesejahteraan atau kemashlahatan seluruh umat manusia di muka bumi ini sesuai dengan FirmanNya bahwa Islam adalah Rohmatan lil aalamin yang berarti jelas bahwa Allah SWT tidak memilih memilih sesiapa orangnya atau kelompok tertentu. Tetapi paradigma Islam yang dianggap sebagai agama saat ini telah bergeser menjadi pemilah milahan diri maupun kelompok berdasarkan label atau cap agama yang disebut dengan nama Islam. Jika kita mau jujur, dalam hal ini seakan ada penyimpangan bahkan penginkaran yang dilakukan manusia terhadap nilai nilai agama yang sebenarnya seperti yang diharapkan Allah SWT

Memang pada waktu RosuluLLoh menjalankan dakwahnya beliau pernah melakukannya dengan melakukan perang terhadap orang kafir dan sungguh Allah pun menganjurkan agar pemeluk Islam harus bersedia pergi berjihad melawan para musuh bilamana diperlukan. Tetapi jika kita menengok sejarah dengan benar, pada saat itu rosuluLLoh hanya memerangi orang atau kelompok kelompok yang menghalang halangi perjuangan beliau. Sedangkan terhadap orang yang tidak menghalang halangi perjuangan beliau, maka beliau hanya memberi peringatan dan sekali kali beliau tidak pernah memaksa apalagi memusuhinya. Bahkan di saat ketika Nabi berdakwah di kota Tho”if, beliau beserta rombongannya sampai dilempari batu dan diolok olok sepanjang jalan sampai sampai malaikat Jibril tidak tega melihatnya dan hendak memohon kepada Allah agar diijinkan meluluh lantahkan kota tho’if berikut seluruh penduduknya. Tetapi lagi lagi Nabi mencegah tindakan Jibril dan sebaliknya karena alasan tertentu, beliau malah mendo’akan penduduk Tho’if yang melemparinya dengan do’a “ Ya Allah berilah petunjuk kepada para kaumku, sesungguhnya mereka adalah orang orang yang tidak tahu “. Nabi tidak berbangga diri dengan predikat Islam yang dimilikinya dan dengan gegabah menyalahkan apalagi memerangi orang atau kelompok lain. Begitu pula Nabi tidak mengajarkan bahwa Islam yang diajarkannya adalah sesuatu yang boleh dijadikan simbul predikat yang kebenarannya harus diaku akukan kepada orang lain. Itulah Islam yang diajarkan Nabi yang berarti tuntunan perilaku atau tindakan budi pekerti yang luhur serta sikap penyerahan segala sesuatu urusan kembali hanya kepada Allah semata. Sekali lagi Islam bukanlah simbul agama atau identitas yang harus disandang, tetapi Islam adalah ajaran keyakinan dan budi pekerti

Hal sangat aneh yang kini terjadi, sekarang ini perselisihan dan pertengkaran justru banyak terjadi di antara sesama pemeluk agama Islam itu sendiri. Mengapa Islam yang disebut sebagai agama paling benar di Mata Allah justru bertolak dengan pernyataan Allah sendiri yaitu rohmatan lil alamiin. Banyak sekali contoh sejarah yang tidak mungkin bisa disebutkan satu persatu bahwa kekerasan atau kebengisan, ketidak adilan bahkan kejahatan perang pernah terjadi dilakukan oleh orang orang atau kelompok yang mengatas namakan diri sebegai pemeluk agama Islam. Semenjak sepeninggal RosuluLLoh SAW dan juga para Khulafa’urrosyidin RA sampai sekarang , addin selalu dimaknai sebagai sebuah agama, yaitu sebagai simbul predikat yang dianggap bisa melegitimasi kebenaran individu dan atau kelompok sehingga tidak jarang kemudian membuat seseorang merasa telah paling benar sendiri dan boleh menyalahkan orang lain. Alhasil agama merupakan alat yang kemudian dipakai untuk mencari pembenaran diri sendiri dan orang akan mempertahankan kebenaran dirinya atas nama agama yang dianut, walau harus menyalahkan bahkan memushi orang lain dengan menggunakan cara cara yang sebenarnya justru bertentangan dengan nilai nilai yang ada dalam ajaran Islam.

Jika boleh ditarik sebuah kesimpulan, maka boleh jadi Islam bukanlah sebuah agama apalagi dalam pengertian atau pendefinisian yang sekarang ini dipakai banyak orang yaitu agama sebagai label merek atau sarana yang bisa dipakai untuk mencari pembenaran diri dan sesekali dijadikan tempat berkelit atau berlindung dari subyektifitas kesalahan seseorang atau kelompok tertentu. Ungkapan di atas setidaknya cukup menjadi bukti bahwa Islam dan agama adalah dua hal yang bertolak satu sama lain. Apalagi di dalam Islam jelas jelas ditegaskan bahwa hakikat sebuah kebenaran hanyalah Allah yang tahu dan berhak menentukannya dan jika kita benar benar merasa menjadi muslim, maka hal ini pun harus kita yakini seyakin mungkin. Bukti lain bahwa Islam bukanlah agama adalah ayat ke empat pada surah Al Fatihah yang artinya, Allah – adalah yang menjadi Raja pada yaumiddin. Andaisaja kita kaitkan kata yamiddin dengan addiina indaAllahil Islam di mana kedua kalimat tersebut adalah Allah yang mengatakannya, maka mungkin saja ada hal yang terkait di antara keduanya. Addin dalam surat AlFatihah yang dimaknai sebagai hari qiamat atau hari pembalasan seakan berjalan seiring dengan Islam Addin yang mengajarjkan sebuah keyakinan akan adanya hari akhir yaitu hari qiamat. Maka dari itu hakikat makna Addin seharusnya bisa kita terapkan untuk kedua kalimat tersebut baik secara terpisah ataupun secara bersamaan. Yaumiddin memberi gambaran adanya sebuah kenyataan yang akan terjadi suatu saat nanti di mana hanya Allah lah yang menjadi Raja di sana. Sedangkan addin al Islam juga memberi gambaran sebuah kenyataan di mana dalam menjalani kehidupan manusia harus meyakini bahwa segala sesuatu hal adalah berasal dari Allah dan akan kembali pula hanya kepada Allah semata dan karena itu maka hanya Allah jua lah yang secara mutlak mempunyai hak bisa menentukan baik buruk atau benar salahnya sebuah keadaan. Allah menamai Islam sebagai addin disertai berbagai macam pokok pokok ajaran yang bisa menuntun dan membina perilaku manusia sebagai penduduk bumi agar tidak serta merta terlena begitu saja dengan gemerlapnya kehidupan tapi sebaliknya manusia harus mau mentaati hukum yang telah digariskan Allah nan Maha Adil dan Bijaksana karena suatu ketika nanti yaitu pada hari qiamat Allah akan membalas segala amal perbuatan yang dilakukan setiap hambanya semasa hidup di dunia. Kurang dan lebihnya, makna yang dapat dirasakan dari kedua kalimat di atas tidak lain adalah dikabarkannya adanya sebuah kondisi yang benar benar nyata dalam kehidupan yang dialami oleh seluruh manusia yang disebutnya dengan kata “addiin”. Dan seharusnya demikian pula makna addin yang bisa kita rasakan pada surah Annashr, …fii diiniLLahi yang diartikan sebagai jalan Allah, dan juga kata addin pada ayat ayat Al Quran yang lain.

KESIMPULAN

Jika memang Islam harus kita anggap sebagai agama, maka makna agama yang kita rasakan harus benar benar dapat kita letakkan pada pendefinisian dan prespektif yang sebenar benarnya.

Innaddiina indaAllahil Islam” harus dipahami dengan makna bahwa “ sesungguhnya kenyataan dalam kehidupan yang sebenarnya menurut Allah adalah segala sesuatu yang ada di dalam Islam .

Sedangkan “ Maaliki yaumiddin “ harus di pahami dengan makna bahwa “ yang menjadi Raja pada hari atau keadaan dimana kehidupan yang benar benar nyata itu ada, baik kehidupan di alam dunia sekarang ini maupun kehidupan kelak di akhirat nanti.

” …yadkhuluuna fii diiiniLLahi ” harus di pahami dengan makna bahwa ” orang orang yang kemudian sampai pada kesadarannya meyakini sebuah kondisi yang benar benar nyata adanya yang digambarkan oleh Allah di dalam Islam yang disebutnya sebagai Addiin.

Dari penela’ahan makna beberapa kitipan ayat ayat di atas, maka kiranya kita semua dapat merenungkan sebuah penafsiran bahwa rasanya terlalu remeh jika kta menganggap ” Islam ” sebagai sebuah agama yang begitu gampangnya dijadikan simbul simbul kebanggaan diri, label pembenaran kelomok dan sebagainya. Alangkah agungnya Islam yang diberikan Allah SWT ini sehingga semestinya Islam harus kita anggap sebagai sebuah kondisi kebenaran yang nyata dimana manusia tidak boleh sekedar mengaku ngaku apalagi membanggakan diri hanya karena merasa dirinya adalah orang Islam. Islam merupakan amanat Ilmu yang bersumber langsung dari Allah SWT dan harus dijaga oleh setiap individu dimana Allah SWT tentu tidak akan rela jika kita manusia kemudian memandang Islam hanya dengan pandangan semau kita sendiri apalagi sampai menggunakan Islam untuk menuruti keinginan atau kepuasan diri yang setiap detik bahkan setiap tarikan nafas dapat saja terselimuti hawa nafsu.

Allahumma in dakholattashbiihu wattaqshiiru fii ma’rifatii iyyaaKa walam a’lam bihii au alimtu Tubtu an’hu wa aslamtu wa aquulu…..

LAA ILAAHA ILLALLAH, MUHAMMADURROSUULULLOH.

WALLOOHU A’LAMU

ayeszembouque